Mereka datang dengan map tebal dan senyum profesional.
Membawa angka-angka yang rapi di atas kertas,
seolah dunia bisa ditimbang, ditakar, lalu ditukar.
Tanah ini, kata mereka, bisa diganti.
Sekolah ini, bisa dipindah.
Pendidikan, bisa dikompensasikan.
Lalu di mana letak hati nurani?
Di atas meja perundingan,
mereka lupakan bahwa ruang kelas bukan sekadar bangunan,
tapi saksi bisu tumbuhnya bangsa.
Bahwa di setiap lantai yang retak,
ada jejak kaki masa depan yang tengah belajar melangkah.
Mereka hitung luas tanah dan nilai pasarnya,
tapi tak pernah menghitung
berapa banyak nyawa yang ditumbuhkan dari ruang itu,
berapa cita-cita yang menyala dari papan tulis usang.
Apa yang lebih menyakitkan
dari menyaksikan ilmu ditawar seperti barang bekas?
“Relokasi,” kata mereka.
“Ganti rugi,” kata mereka.
“Sudah ada lahan pengganti,” kata mereka.
Tapi apakah mereka tahu,
pohon tua di halaman itu meneduhkan doa-doa pagi?
Apakah mereka mengerti,
bahwa dinding-dinding itu menyimpan gema lagu Indonesia Raya
yang dinyanyikan oleh anak-anak yang belum tahu
bahwa tempat belajar mereka sedang ditimbang dengan meteran uang?
Pendidikan tak bisa dipindahkan
karena ia berakar dalam ruang batin dan sejarah.
Ia bukan soal lokasi,
tapi tentang makna.
Dan saat pendidikan mulai diperlakukan
sebagai pos anggaran yang bisa digeser,
itulah tanda: kita tak sedang membangun masa depan—
kita sedang menjualnya.
Fakta atau Ilusi?
Dalam beberapa pernyataan dan respons publik atas konflik tanah SMAN 1 Bandung, sering muncul narasi relokasi atau kompensasi lahan sebagai solusi. Namun tidak pernah ada studi sosiologis atau historis yang mempertimbangkan dampak pemindahan ini terhadap nilai memori kolektif, identitas ruang belajar, dan trauma kultural yang dapat ditimbulkan.
Leave a Reply