Anak-anak negeri,
yang kelak berjalan di atas tanah ini
dengan sepatu masa depan dan langkah tak gentar—
dengarkan aku,
bukan sebagai bayang dari dunia gaib,
bukan pula sebagai dongeng malam hari,
tetapi sebagai penjaga sunyi
yang menyimpan luka-luka sejarah
dalam nafas yang tak pernah padam.
Aku menulis surat ini,
bukan dengan pena,
tetapi dengan desir angin di sela dedaunan tua,
dengan gemetar pohon yang tak rela ditebang,
dan dengan nyala sunyi dari ruang kelas
yang pernah menjadi tapal batas
antara gelap dan terang.
Anak-anak negeri,
aku telah menyaksikan mereka
menghapus jejak sejarah dengan tinta hukum.
Aku telah melihat
bagaimana meja sidang dibangun tanpa kursi untuk nurani.
Aku telah mencium bau dingin dari berkas-berkas
yang tak mengenal tangis seorang guru,
atau peluh dari siswa yang berjuang membaca masa depan
meski bukunya robek dan lantainya retak.
Maka surat ini kutulis untuk kalian,
agar kalian tak mudah lupa.
Karena lupa adalah jalan pertama menuju kehilangan.
Dan kehilangan tanah ini—bukan sekadar kehilangan lahan,
tetapi kehilangan arah.
Bila suatu saat dunia menjadi terlalu bising,
dan kebenaran dikaburkan oleh kebisingan yang dibuat-buat,
datanglah ke tempat ini,
diamkan hatimu.
Dengarkan tanah.
Sebab tanah ini masih menyimpan suaraku,
masih menyimpan sumpah.
Bahwa selama anak-anak negeri ini masih percaya
bahwa ilmu bukan untuk dijual,
dan pendidikan bukan komoditas—
aku, Jin Penjaga,
akan tetap tinggal.
Leave a Reply