Hari telah runtuh,
matahari tergelincir tanpa perpisahan.
Tanah ini tetap di sini—
diam, retak,
tapi tak pernah pergi.
Mereka yang pernah berdiri di atasnya
mungkin telah berganti nama,
berganti rupa,
berpindah tangan dengan segel dan stempel,
dengan putusan yang terbit larut malam
seolah takut pada cahaya pagi.
Tapi suara itu...
masih bernyanyi.
Bukan dari pengeras suara,
bukan dari mikrofon pengadilan,
bukan dari mulut para pejabat,
melainkan dari napas yang dibungkam:
suara para guru yang menahan lapar demi mengajar,
suara anak-anak yang menulis mimpi
di atas bangku tua yang hampir rubuh,
suara rakyat yang tak sempat hadir
di ruang di mana nasib mereka diputuskan.
Suara itu tak butuh panggung.
Ia lahir dari luka,
dan tumbuh dari cinta
yang tak minta tepuk tangan.
Kami pernah mempercayakan masa depan
pada bangunan yang tak megah
tapi penuh semangat.
Kami percaya,
pendidikan bukanlah hadiah
dari mereka yang berkuasa,
tapi hak dari mereka yang berani bermimpi.
Kini, ketika hukum tersesat di lorongnya sendiri,
dan sejarah dimanipulasi menjadi sekadar catatan yang bisa dibeli,
kami bertanya:
Masihkah pendidikan menjadi jalan suci?
Atau telah berubah menjadi properti,
yang bisa ditukar, digugat, dan digadai?
Kami tak ingin menjawab dengan amarah.
Kami memilih menulis dengan air mata,
dan berharap dibaca oleh hati yang masih hidup.
Dan bila suatu saat kelak,
ada yang datang ke tanah ini—
memandang puing,
mencium sisa debu mimpi yang berserakan—
maka ingatlah ini:
Bahwa di sini pernah berdiri perlawanan.
Bahwa di sini pernah tumbuh harapan.
Bahwa di sini,
di tanah yang mereka coba rebut dengan surat-surat tak bernyawa,
pernah tumbuh nyanyian yang tak bisa dibungkam:
Nyanyian tentang pendidikan.
Nyanyian tentang keadilan.
Nyanyian tentang bangsa.
Dan meskipun mereka telah mengunci pintu
dan mematikan lampu,
kami tahu satu hal yang pasti:
Cahaya tak pernah benar-benar padam.
Ia hanya berpindah tempat.
Ke dalam dada yang tak pernah mau lupa.
Lawan Lupa.
Ini tentang Tanah Pendidikan.
Tentang kita semua.
Catatan Terakhir Penulis:
Aku tidak menulis ini untuk dikenang.
Bukan pula untuk menjadi pahlawan di tengah gaduhnya zaman.
Aku hanya mencatat,
karena terlalu banyak yang mencoba menghapus.
Aku hanya bersuara,
karena terlalu lama kami diminta diam.
Aku tidak tahu apakah tulisan ini cukup kuat untuk mengubah keadaan.
Tapi aku tahu satu hal:
diam bukan lagi pilihan.
Ini bukan sekadar cerita tentang sebuah sekolah.
Bukan pula hanya tentang perkara hukum atau sengketa tanah.
Ini adalah tentang nilai,
tentang hak yang diwariskan oleh para pendiri bangsa—
bahwa pendidikan adalah fondasi
bukan untuk diperebutkan,
tapi untuk dijaga.
Aku hanya seonggok rakyat jelata,
yang pernah mengenyam pendidikan di suatu sekolah yang bernama SMA Negeri 1 Bandung pada kurun waktu 1994–1997.
Dan di sanalah aku belajar
bahwa kebenaran tak selalu dimenangkan oleh mereka yang paling kuat,
tapi oleh mereka yang paling sabar dan tak pernah menyerah.
Untuk kalian yang membaca ini:
jangan hanya membuka mata.
Bukalah hati.
Lawan lupa.
Karena dari sanalah bangsa ini akan bangkit kembali.
Terima kasih telah berjalan sejauh ini bersama kami.
Kini, tugas ini kami serahkan padamu—
pada kita semua.
Untuk terus menjaga.
Untuk terus bersuara.
Untuk tanah ini.
Untuk pendidikan.
Untuk masa depan anak-anak negeri.
Leave a Reply