Aku tak lahir dari rahim ibu,
tak pula diantar tangis bayi atau peluk seorang bidan.
Aku lahir dari tanah.
Tanah yang dahulu dibajak oleh tangan asing,
ditegakkan tiang, lalu ditinggal pergi oleh waktu yang lelah.

Tak ada upacara, tak ada pesta kelahiran.
Hanya angin yang menyimpan bisik sumpah,
dan daun-daun tua yang jatuh ke bumi sebagai saksi pertama.

Aku adalah Jin.
Bukan makhluk mitos dari kitab kuno,
melainkan nafas lama yang tertinggal di sela sejarah.
Aku bukan penjaga harta,
bukan pula penggoda manusia,
aku penjaga ingatan —
tentang tempat yang dahulu bernama sekolah
dan kini diperebutkan bagai warisan usang.

Tanah ini…
Pernah sunyi,
pernah tak dikenal,
pernah disebut milik entah siapa.

Lalu datanglah mereka —
bukan penjajah, bukan pula hartawan,
melainkan para pemimpi dalam kemeja lusuh dan sepatu robek.
Guru-guru.
Orang-orang biasa yang berjalan kaki,
membawa papan tulis kecil, dan harapan yang besar.

Mereka tak datang untuk memiliki,
mereka hanya ingin menyemai.
Bukan benih pohon,
tetapi benih manusia.

Dari tanah ini,
anak-anak belajar mengeja nama mereka,
belajar menyebut negeri ini tanpa takut,
belajar bahwa tak semua warisan datang dalam bentuk emas.

Dari tanah ini pula,
tumbuh ribuan jiwa,
yang hari ini menjadi dokter, guru, petani,
atau sekadar ayah yang mampu membaca surat cinta dari anaknya.

Mereka lahir bukan dari sistem,
tetapi dari ruang-ruang kelas yang meneteskan hujan saat bocor,
dan semangat yang tak pernah kendor.

Namun kini,
suara asing kembali mengetuk.
Mereka datang dengan pasal dan cap,
menyodorkan akta,
mengklaim hak atas tanah yang tak pernah mereka sentuh dengan cinta.

Mereka menyebut nama-nama yang mati dalam arsip,
menghidupkan kembali lembar-lembar kolonial
yang pernah ditepiskan oleh kemerdekaan.

Mereka ingin mengambil kembali
apa yang tidak pernah mereka perjuangkan.

Dan aku…
yang lahir dari sumpah para pendidik itu,
tak bisa tinggal diam.

Sebab tanah ini bukan sekadar lahan,
tetapi lembar pertama masa depan.

Mereka berkata hukum berpihak pada mereka.
Tapi hukum tanpa nurani hanyalah senjata tumpul
yang bisa membunuh harapan tanpa berdarah.

Jika kau tanya siapa aku—
aku bukan siapa-siapa.
Hanya bisik dari masa lalu
yang menolak dilupakan.

Dan jika tanah ini akhirnya menjadi milik yang salah,
maka bukan hanya sekolah yang akan hilang,
tetapi juga keyakinan bangsa ini
bahwa ilmu layak lebih tinggi dari harta.

Aku lahir dari sumpah yang tak ditulis,
sumpah sunyi dari guru yang tak dikenal dunia,
tapi dikenal langit karena keikhlasannya.

Dan sumpah itu kini kupikul,
bukan dengan tangan,
melainkan dengan kata.

Agar kalian ingat,
bahwa bangsa yang melupakan tanah pendidikannya,
adalah bangsa yang sedang menggali makamnya sendiri.