Tanah ini diam,
seperti lembar terakhir dari buku tua
yang tak lagi dibaca,
tapi menyimpan rahasia zaman dengan sabar.
Ia telah menyaksikan segalanya:
dari tapak sepatu kolonial,
hingga langkah kaki siswa-siswa pertama
yang datang membawa pensil dan harapan.
Ia pernah dihina,
diabaikan, ditinggalkan.
Namun ia tak pernah membalas dengan murka.
Tanah ini hanya diam—
karena diam adalah bahasa dari yang tahu tempatnya dalam sejarah.
Kini, kabar kembali datang.
Tentang siapa yang layak,
tentang siapa yang sah.
Tentang akta dan meterai.
Tentang hak yang dikejar,
dan sejarah yang dilupakan dengan sengaja.
Tapi tanah ini tak gentar.
Ia tahu siapa yang pernah memeluknya.
Ia tahu siapa yang datang dengan cinta,
dan siapa yang hanya ingin menanam tanda.
Mungkin yang datang akan menang di meja,
mendapat lembar-lembar pengesahan
dan angka-angka yang dicetak tebal.
Namun apakah itu cukup untuk menghapus kenangan?
Untuk mengusir jejak anak-anak negeri yang pernah tumbuh di sini?
Tidak.
Karena tanah ini sudah punya jiwa.
Dan jiwa, sekali lahir dari pengorbanan,
tak bisa dikembalikan ke dalam diam.
Maka biarlah mereka menggugat,
biarlah mereka memaksa.
Suatu saat, sejarah akan kembali menulis ulang dirinya sendiri—
dengan tinta dari nurani
dan pena dari hati yang tak dijual.
Dan saat itu tiba,
ia, Sang Penjaga,
akan berdiri kembali—
bukan sebagai jin dalam cerita,
tetapi sebagai suara dalam benak setiap anak yang tak rela
melihat tanah pendidikan dijual kepada lupa.
Ia tak pernah pergi.
Ia hanya menunggu kita pulang.
… bersambung ke Trilogi Kedua: Hak Siapa?
Leave a Reply