tapi ada yang mencatat diam-diam—
dalam retak, dalam lapuk, dalam sunyi yang jujur.
Tembok itu tak pernah meninggalkan tempatnya.
Ia berdiri sejak spidol masih mahal,
sejak kapur jadi senjata utama para guru,
dan sejak anak-anak datang tanpa bekal—hanya mimpi di saku kiri.
Ia menyaksikan segalanya:
tentang anak yang menangis karena tak bisa membaca,
tentang guru yang menggadaikan kalung istrinya demi beli papan tulis.
Tentang musim yang datang silih berganti,
tapi tekad tak pernah berubah.
Di atas tembok itu,
pernah tertulis puisi pertama seorang murid—
tentang cita-cita jadi dokter,
agar ibunya tak lagi sakit tanpa obat.
Pernah juga ada coretan cinta pertama,
yang kini mungkin telah jadi ibu dari anak yang juga belajar di sini.
Tembok itu bukan hanya saksi,
ia adalah pelindung—
dari panasnya siang dan dinginnya pengabaian pemerintah.
Lalu suatu hari,
di hadapannya datang orang-orang dengan jas rapi,
mengukur ulang tanah dengan meteran yang tak mengenal kenangan.
Mereka menatap tembok itu dengan dingin,
seperti menatap barang yang bisa dijual kembali.
Tapi tembok itu tak gentar.
Ia sudah terlalu lama berdiri untuk takut pada angka.
Ia tahu, ia bukan bagian dari sengketa.
Ia bagian dari perjuangan.
Dan perjuangan tak pernah tunduk pada gugatan yang lahir dari ingatan yang baru-baru.
Tembok itu—
mungkin tak bisa bicara di ruang pengadilan.
Tapi ia bicara pada hati nurani siapa pun yang datang dengan kejujuran. Dan hari itu, seorang anak meletakkan tangannya di dinding,
lalu berbisik pelan:
"Terima kasih sudah menjaga kami."
Fakta atau Ilusi?
- Tembok dan bangunan utama di SMAN 1 Bandung masih mempertahankan bentuk arsitektur awal era kolonial (eks HCS), yang terus digunakan tanpa putus hingga kini — bukti penggunaan dan pengabdian tanpa klaim “pemutusan hubungan hukum”.
- Dalam hukum perdata, asas kepemilikan melalui penguasaan dan pemanfaatan terus-menerus (bezit) selama lebih dari 20 tahun tanpa gangguan memiliki kekuatan hukum tertentu (vide: Pasal 1967 KUHPer).
- Dalam sejarah sosial, bangunan pendidikan pascakemerdekaan bukan hanya ruang, melainkan simbol nasionalisasi pengetahuan — tidak bisa disamakan dengan tanah komersial biasa.
Leave a Reply