terdengar bisikan dari penjaga lama,
kata-kata yang terlupakan oleh mereka yang sibuk menghitung harta,
tapi tak pernah menakar makna
Malam merundung dengan gelap tanpa tanya,
sepi mengisi ruang-ruang yang kosong,
dan di tengah sunyi itu,
ada suara yang tak didengar mata biasa.
Bisikan jin, penjaga tanah yang terlupakan,
mengalir pelan seperti angin menyisir daun kering,
mengingatkan kita pada janji-janji yang pernah terucap,
dan sumpah-sumpah yang pernah diikrarkan oleh leluhur.
Dia bercerita tentang masa lalu yang tak bisa dihapus,
tentang luka yang masih berdarah di balik beton dan aspal,
tentang mimpi yang coba direnggut oleh mereka yang lupa diri,
mereka yang memilih bayang-bayang kegelapan daripada cahaya kebenaran.
Jin itu tahu, tanah ini bukan hanya hamparan mati,
melainkan nadi yang mengalir di tubuh bangsa,
tempat kelahiran harapan dan doa-doa yang belum terucap.
Namun di balik gemerlap janji manis,
ada suara lain yang berbisik pelan,
tentang kepentingan yang terbungkus rapi,
tentang klaim yang tak berakar di bumi nurani.
Mereka datang dengan dokumen-dokumen usang,
mereka bicara tentang hak dan kepemilikan,
tapi lupa bahwa tanah ini lebih dari sekadar kertas,
lebih dari sekadar angka dan cap basah.
Jin itu mengingatkan kita,
bahwa tak semua yang berkilau itu emas,
dan tak semua yang tertulis itu benar,
karena sejarah adalah puisi yang harus dibaca dengan hati.
Bisikan malam itu, seperti doa tanpa suara,
mengingatkan pada kita yang masih bernapas,
bahwa tanah ini bukan untuk dijual atau dipertukarkan,
melainkan untuk dijaga dan dicintai.
Dalam malam yang sunyi,
jiwa-jiwa penjaga lama masih berkelana,
mereka menunggu, mengawasi,
dan berharap agar generasi ini tak terlena.
Bisikan jin adalah panggilan,
panggilan untuk bangun dari tidur panjang,
untuk melihat dengan mata hati,
dan menyelamatkan mimpi yang hampir punah.
Leave a Reply