mereka menjalar perlahan,
menjerat masa kini dalam jaring-jaring tak kasat mata,
membungkus kebenaran dengan selimut dusta yang rapuh
Di antara riuh suara kota yang terus berdetak,
ada bayang-bayang yang tak kunjung pergi,
menempel erat di sudut-sudut waktu,
menyeret masa kini ke dalam pusaran yang samar.
Mereka yang lupa, atau pura-pura lupa,
berkeliaran dengan senyum yang terukir rapi,
membawa dokumen dan kata-kata resmi,
berkaca pada masa lalu yang ingin mereka hidupkan kembali.
Tapi siapa yang mengingat janji-janji yang terkubur?
Siapa yang mengenang kesepakatan yang tak pernah diucap?
Bayang-bayang itu tak hanya menghantui tanah,
tapi juga jiwa-jiwa yang berani bermimpi.
Mereka menjerat dengan kata-kata,
memintal tali hukum yang rumit,
untuk membungkus harapan yang tumbuh subur,
menjadi benang kusut dalam labirin peraturan.
Namun, tanah ini punya cerita yang tak bisa diabaikan,
kisah para guru yang datang dengan tangan kosong,
kisah anak-anak yang menulis masa depan mereka
di atas debu yang dulu tak bernama.
Bayang-bayang lama itu bisa bersembunyi,
tapi tidak bisa menghapus jejak cahaya.
Mereka mencoba menutup mulut waktu,
namun waktu terus berdetak, mengusik kesunyian.
Kalau memang masa lalu adalah guru,
maka mengapa kita memilih untuk terlena?
Mengapa membiarkan bayang-bayang itu
mengikat langkah-langkah yang sedang berlari?
Mereka yang mengklaim hak,
mungkin lupa bahwa tanah ini adalah kitab suci,
ditulis oleh anak-anak yang tak pernah menyerah,
dibaca oleh generasi yang mengukir harapan.
Kala bayang lama menjerat masa kini,
ingatlah, bahwa cahaya kecil sekalipun
bisa menembus kegelapan terdalam,
dan mimpi tidak pernah mati, walau dipenjara.
Leave a Reply