ia tak akan minta dibela—
hanya diminta jangan dilupakan
Tegaklah, anak-anak negeri—
meski langit tampak runtuh,
dan jalan di depan dipenuhi debu pengkhianatan.
Kalian yang pernah duduk di kursi kayu reyot,
membaca mimpi dari halaman usang,
mengeja masa depan dengan suara gemetar,
adalah saksi bahwa dari reruntuhan pun
lahir keajaiban.
Mereka datang kini—
berbalut jas, membawa berkas,
berbicara atas nama hukum,
tapi melupakan makna dari keadilan itu sendiri.
Tegaklah, anak-anak negeri—
sebab mereka ingin membengkokkan waktu,
menjadikan sejarah sebagai barang dagangan,
menghitung tanah dengan kalkulator,
bukan dengan air mata yang pernah tumpah
untuk mencerdaskan bangsa.
Kita tahu, hukum bisa salah arah
jika dikemudikan oleh tangan yang salah.
Tapi nurani?
Ia tetap—tegar dan bening,
meski dijerat oleh pasal-pasal yang berdebu.
Di tanah ini, guru pernah berdiri tanpa upah.
Di tanah ini, murid pernah berjalan kaki berjam-jam,
demi satu lembar ilmu yang tak bisa dibeli.
Dan kini, ada yang ingin mencabut akar itu—
dengan alasan warisan,
dengan surat-surat dari zaman penjajahan,
seolah mimpi anak negeri tak lebih bernilai
dari segel dan materai.
Tegaklah, anak-anak negeri—
ingatkan dunia,
bahwa kalian bukan pewaris bangunan,
melainkan pewaris cita-cita.
Dan cita-cita itu tak bisa diklaim
oleh mereka yang bahkan tak peduli
pada makna kata “sekolah”.
Bersuaralah,
dengan tulisan, dengan karya,
dengan doa yang menyentuh langit.
Karena tanah ini pernah kosong,
dan kalianlah yang mengisinya dengan harapan.
Dan harapan,
tak akan pernah tunduk pada tipu daya.
Leave a Reply