Ada nama yang pernah hilang ditelan zaman,
terpahat dalam lembar-lembar tua,
disegel oleh waktu dan semestinya disimpan dengan hormat,
sebagai bagian dari babak usai sebuah era.
Namun kini, nama itu kembali…
bukan sebagai ingatan yang menyejukkan,
melainkan sebagai gugatan yang mengguncang.
Perkumpulan yang dahulu lahir di masa penjajahan,
yang pernah hidup dalam struktur kekuasaan asing,
kini menghidupkan kembali nafasnya—
bukan untuk meneruskan nilai lama,
melainkan untuk meraih kendali atas tanah yang telah menjadi milik bangsa.
Ironi itu begitu mencolok:
yang dulu menjauh pasca kemerdekaan,
tiba-tiba muncul ketika tanah mulai bernilai tinggi.
Yang dahulu diam saat rakyat membangun sekolah dari puing,
kini berbicara lantang demi sepetak lahan yang sudah berakar sejarah.
Nama boleh sama,
tapi nafasnya lain.
Rohnya bukan lagi untuk pendidikan,
tapi untuk kepentingan yang tak lagi terbaca oleh hati nurani.
Dan lebih menyedihkan lagi—
sejarah dijadikan senjata.
Dokumen-dokumen tua dibangkitkan,
dirangkai ulang seperti puzzle,
lalu dipresentasikan seolah-olah kebenaran.
Padahal, sejarah bukan hanya tentang kertas.
Ia adalah tentang kesaksian hidup,
tentang batu yang mengingat,
tentang pagar sekolah yang berdiri puluhan tahun,
tentang anak-anak yang berlarian di lapangan yang sama,
tentang guru-guru yang mati dalam sunyi demi sebuah cita-cita.
Mereka yang kini mengklaim,
tak pernah hadir saat tanah ini dibela dengan cucuran keringat.
Tak pernah menanam benih ketika tanah ini gersang.
Tak pernah menjaga ketika malam-malam panjang datang tanpa kepastian.
Kini mereka datang,
berbekal nama lama yang dimanipulasi,
dengan semangat yang jauh dari semula,
menuju arah yang ganjil dan menyimpang dari cita-cita bangsa.
Dan negeri ini pun terdiam,
karena sulit membantah seseorang
yang menyelundup lewat lorong sejarah,
lalu bersandar pada hukum yang hanya melihat tanggal,
bukan perjuangan.
Leave a Reply