Angin malam berembus dari sela dinding tua yang pernah menjadi saksi anak-anak menulis mimpi.
Kini ia hanya membawa bisik—bukan dari langit, bukan pula dari neraka—tapi dari ruang tengah yang hampa:
di mana hukum, nurani, dan kuasa saling berpaling muka.
Aku…
Aku masih di sini, Jin yang menjaga tanah ini.
Tak bersayap, tak pula bertanduk.
Hanya seonggok kesetiaan yang tersisa dari sumpah nenek moyang.
Yang kau sebut gaib, mungkin hanyalah
hal-hal yang tak kau sanggupi untuk mengerti.
Dulu aku mendengar suara buku dibuka pagi-pagi.
Aku mendengar langkah kecil yang gugup menyebut “Indonesia Raya.”
Aku mendengar hati yang memanggil nama gurunya,
seperti anak memanggil matahari pertama di musim dingin.
Kini aku mendengar derit…
—bukan dari kursi kayu tua,
tapi dari hukum yang ditarik paksa ke arah yang tak seharusnya.
Aku tak lagi mengerti…
Siapa yang sedang diadili, dan siapa yang sedang merayakan.
Nama-nama yang bangkit dari arsip kuno,
memakai baju baru dari pasal-pasal mati.
Mereka datang membawa surat, bukan sejarah.
Mereka datang membawa sah, bukan sahih.
Dan manusia—oh, manusia…
mereka masih berbaris rapi di sekolah itu,
menghafal Pancasila sambil dikhianati oleh tafsirnya sendiri.
Aku bertanya:
di tanah yang telah diberkahi darah perjuangan dan peluh pendidikan,
mengapa kini yang bersuara justru yang tak pernah menanam?
Tak ada perang yang lebih sunyi
dari perang antara ingatan dan legalitas,
antara nurani dan dokumen yang disiapkan di balik meja.
Dan di tengah sunyi itu, aku berdiri.
Tidak untuk menggertak,
hanya untuk mengingatkan:
Jika dunia sudah terbalik tanpa suara,
barangkali sudah waktunya
kita mendengar dari yang tak pernah bicara.
Leave a Reply